Puisi Karya Sapardi Djoko Damono: Penuh Makna Cinta Hingga Gertakan

2 min read

Puisi Karya Sapardi Djoko Damono – Sebuah puisi tidak akan terlepas dari pesan yang ingin disampaikan penulisnya.

Tidak hanya berupa kata-kata indah pengungkap perasaan penulis, dalam penulisan puisi juga harus terdapat tema, yang dimana tema tersebut akan berperan pada penilaian baik buruknya amanat yang terdapat dalam sebuah puisi.

puisi karya sapardi djoko damono

Begitupun dengan seorang pujangga yang banyak menghasilkan sajak-sajak hingga munculnya sebuah novel terkenal berjudul “Hujan Bulan Juni”, siapa lagi jika bukan Sapardi Djoko Damono.

Puisi Karya Sapardi Djoko Damono dan Maknanya yang Mendalam

Seluruh hal yang berbau dengan seni, tentu akan membuat kita menerka-nerka makna yang sedang diutarakan, sedangkan makna aslinya hanya diketahui oleh penulis.

Namun, tidak ada salahnya jika kita mencoba membedah dan memaknai puisi-puisi karya pujangga Sapardi Djoko Damono berikut!

Aku Ingin

Puisi pertama karya Sapardi Djoko Damono yang akan kita bahas yaitu puisi berjudul “Aku Ingin”.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Bagaimana perasaan anda setelah membaca puisi “Aku Ingin”?

Begitu romantis dan membuat berkhayal bukan?

Ingin rasanya memiliki kekasih yang akan menyampaikan kata-kata tersebut.

Jangan senang dulu dengan suasana romantis yang ditimbulkan setelah membaca puisi diatas.

Jika kita coba pahami maknanya, puisi ini akan menggambarkan banyak hal, penulis berusaha menyampaikan rasa cinta diam-diam yang tidak pernah ia utarakan.

Puisi ini berisi banyak makna tentang ketulusan cinta termasuk ungkapan cinta yang tidak terbalaskan.

Seseorang begitu mencintai terlalu dalam, tetapi cinta yang dimilikinya ia rahasiakan dan tidak pernah terbalas hingga ia tiada.

Baca Juga :  Perbedaan Puisi Lama Dan Puisi Baru: Pecinta Sastra Wajib Tahu!

Pada Suatu Hari

Puisi ini terdapat pada sebuah novel berjudul “Hujan Bulan juli”.

“Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.”

Dalam puisi ini penulis berusaha memotivasi pembaca bahwa dengan menulis, seseorang akan tetap hidup dan dikenal walau telah tiada.

Dengan menulis, orang lain akan mendapatkan pelajaran tentang bagaimana perjuangan kita dalam meraih cita-cita kita.

Dalam tulisan juga, orang lain akan dapat menemukan orang-orang yang menemani kita dalam meraih cita-cita atau sering kita gunakan sebagai inspirasi menulis.

Hanya

Puisi ini terdapat pada buku kumpulan sajak sang pujangga yang berjudul “Melipat Jarak”

“Hanya suara burung yang kau dengar
dan tak pernah kau lihat burung itu
tapi tahu burung itu ada di sana

hanya desir angin yang kau rasa
dan tak pernah kau lihat angin itu
tapi percaya angin itu di sekitarmu

hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kau lihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu”

Puisi di atas menceritakan tentang kepercayaan bahwa setiap orang memiliki jodohnya masing-masing.

Kita tidak tahu siapa di luar sana yang sedang mendoakan kita namun percayalah bahwa Tuhan telah menyiapkan seseorang sebagai jodohmu.

Tanpa kamu lihat, dengan percaya kamu akan dapat merasakannya.

Dalam puisi di atas juga penulis menyampaikan bahwa jodoh kita merupakan cerminan diri yaitu sesuai dengan sikap yang ada di dalam diri kita.

Baca Juga :  Puisi Cinta Roman Picisan yang Bikin Baper

Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta

Puisi romantis ini juga terdapat pada buku berjudul “Melipat Jarak”

“mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat

mencintai cakrawala
harus menebas jarak

mencintai-Mu
harus menjelma aku”

Bagaimana?

Puisi tersebut sangat romantis bukan?

Puisi tersebut menggambarkan seseorang yang mencintai orang lain dengan tulus, serta memiliki cinta yang besar dan hanya dia yang dapat mencintai orang lain yang dicintainya dengan perasaan cinta yang demikian dalamnya.

Puisi ini juga dapat berupa rayuan dan gertakan bahwa tidak ada yang mencintai orang yang dicintai penulis selain penulis sendiri.

Menjenguk Wajah di Kolam

Puisi ini terdapat dalam buku karya beliau dengan judul “Perihal Gendis”.

“Jangan kau ulang lagi
menjenguk
wajah yang merasa
sia-sia, yang putih
yang pasi
itu.

Jangan sekali-
kali membayangkan
Wajahmu sebagai
rembulan.

Ingat,
jangan sekali-
kali. Jangan.

Baik, Tuan.”

Dalam puisi di atas, penulis memberi pesan agar kita tidak sombong dengan paras rupawan yang kita miliki.

Karena seperti bertemu di dalam kolam, keindahan tersebut tidaklah nyata.

Sehingga kita tidak boleh tinggi hati dengan keindahan paras yang kita miliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: