Puisi Ungkapan Berbagai Harapan

6 min read

Puisi Harapan – Kini, penggunaan puisi sebagai penyampai harapan mulai diminati oleh banyak masyarakat Indonesia, terbukti dari banyaknya jumlah peserta pada setiap perlombaan puisi.

Hal tersebut tentu tidak lepas dari peranan para penggiat sastra yang membantu dalam pemfasilitasan masyarakat Indonesia dalam berkarya.

puisi harapan

Tidak hanya dalam hal kesastraan saja yang mencuri perhatian, bahkan kini mahasiswa aktivis juga menggunakan puisi sebagai bentuk penyampaian harapan dan bentuk sindiran pada saat menyampaikan tuntutannya ketika berdemo.

Harapan adalah hal yang harus dimiliki seluruh orang tanpa mengenal kasta dan tahta.

Tidak hanya cita-cita bahkan beberapa keinginan kecil juga bagian dari suatu harapan.

Puisi Harapan Penuh Makna Sebagai Motivasi Hidup

Untuk lebih memotivasi dalam membentuk harapan, beberapa puisi di bawah ini siap membawamu pada dunia imajinasi.

Tidak lupa juga dilengkapi dengan makna puisi sehingga diharapkan lebih mempermudah pemahaman pembaca dalam memahami maksud yang disampaikan puisi tersebut.

Aku Penggemar Hujan

Hujan
Aku suka menyambutnya
Menari dibawah rintiknya lalu membiarkannya menyapu seluruh ruas tubuhku
Tubuh mungilku tak pernah tiada dengannya

Gaun merah muda yang kusuka
Menambah indah pada warna kuning langsa ditubuhku
Terpaan anginnya mengurai helaian rambutku yang menghitam
Lalu rintiknya kembali menjalar menelusuri retinaku

Bola mata hitamku ikut mengagum pada rintik yang bersembunyi pada bulu mataku
Bibir merah muda memudah
Pertanda udara dingin merusak daya tahanku
Maaf hujan, aku tak mampu menari lebih lama denganmu

(Nur Hafizqi)

Puisi di atas berisi tentang harapan seorang gadis untuk dapat menikmati hujan lebih lama.

Jika kita lihat sekeliling kita barangkali terdapat orang-orang yang sangat menyukai hujan dan akan terganggu kesehatannya setelah terkena air hujan.

Puisi di atas juga memiliki paduan ekspresi saat membacakannya, dimana pada awal puisi bernada gembira sedang pada akhir puisi mengungkapkan kesedihan.

Cinta yang Dirahasiakan

Kita belum pernah bersama
Sekedar tegur dalam sapa selintas
Aku mengagum pada tuturmu
Memaling pandang dalam menjamu nafsu
Aku ingin denganmu
Yang pada pertengahan malam kupinta abdiku pada pencipta
Kita, dua insan yang saling serta penjagaan
Ragaku tidak denganmu kini
Tak tau
Barangkali tahun depan lamaranmu menjemput
Aku menjauh
Memaling pandang
Bukan sebab aku tak ingin
Aku menjaga cinta dalam kalbuku agar utuh
Tak terjamah pada rasa semu yang mengambigu
Aku menginginkanmu
Namun terpaksa mengabdi dalam tirai ketakutan
Takut andai cintaku merusak cintanya
Biar saja saling berjarak
Hingga restu menjemput akad turut bersua

(Nur Hafizqi)

Kita tentu pernah mendengar tentang jodoh yang sudah disiapkan untuk masing-masing insan.

Puisi di atas berisi harapan tentang datangnya lamaran dari seseorang yang belum dikenal, belum pernah bertemu dan diyakini sebagai jodoh penulis.

Puisi ini tergolong kedalam jenis puisi romansa religius karena selain berisi ungkapan cinta puisi juga juga berisi penantian secara islami.

Dalam puisi di atas penulis menggambarkan diri yang menjaga nafsunya hingga menunggu kedatangan lamaran seseorang yang diyakini sebagai jodohnya.

Hujan di Senja

Kita duduk ditepian rumah senja itu
Duduk berempat ditemani pasangan kekasih yang menjalin cinta dalam waktu lama
Berbincang kisah muda mereka diiringi lantunan hujan disenja itu
Berdialog ringan dalam tawa
Seolah cemburu pada rintik hujan mencubui muka bumi
Terselip tangan nakal mu menggenggam erat punggung tanganku
Kita sembunyikan genggaman kita dibalik ragamu saja
Sebab saat ini kita berempat

Ku letakkan percayaku dalam topangan bahumu
Mempercayai genggamanmu saat ini
Seolah kuyakinkan tak ada lagi selain dirimu
Kita ikuti kisah cinta tua mereka mengukir nama berdua dalam buku akad

(Nur Hafizqi)

Pasangan kekasih mana yang tidak menginginkan pernikahan sebagai pelabuhan akhir cintanya?

Tentu semua pasangan kekasih menginginkan hal tersebut.

Puisi di atas mengisahkan harapan pernikahan dalam waktu lama yang diimpikan pasangan kekasih.

Baca Juga :  Langkah Membuat Musikalisasi Puisi yang Mudah Dilakukan

Hujan yang turun juga menambah suasana romantis dalam puisi tersebut.

Selain harapan pernikahan, puisi di atas juga menceritakan tentang 2 pasang kekasih yang saling berbincang-bincang serta sepasang kekasih yang memotivasi pasangan lainnya untuk memiliki harapan pernikahan dalam kisah cintanya.

Kamu, Tempat Paling Nyaman di Kota Ini

Padamu sosok yang masih ingin ku panggil kekasih
Denganmu segala pulang selalu ingin terlelap
Dalam derai tetap saja
Kamu menjadi sasaran penyudahnya
Pada bahu yang selalu menampung isakku dahulu
Sungguh ku ungkap
Bukan sekedar hasrat
Bahkan sungguh ingin

Kamu
Kepulangan terbaik di kota ini
Denganmu
Kelopak retinaku mengatup
Lalu bibir merah darahku melengkung rapi

Aku begitu larut dalam waktu pengenangan
Seolah jiwamu turut menyerta
Ku sadur seluruh gunda dalam kisah padamu
Aku rindu
Nyatanya bahumu tempat ternyaman di kota ini

(Nur Hafizqi)

Berpisah dengan kekasih yang masih dikasihi dan dicintai memang dapat menyisahkan kesedihan tersendiri.

Puisi di atas berisi harapan untuk kembali dengan sang kekasih yang sudah berpisah.

Selain harapan tersebut, puisi di atas juga mengungkapkan pujian atas segala kebaikan yang telah dilakukan sang kekasih.

Pada puisi juga terdapat ungkapan kerinduan yang menambah kesan sedih pada puisi di atas.

Kekasihku

Kekasihku adalah
Kepulangan dari seluruh jenuh isi dunia
Pagi dari awal kelopak mataku terbuka
Penikmat si pekat dalam kemalaman

Kekasihku adalah
Inspirasi setiap aksara
Melodi setiap alun nadaku
Tambatan dari segala sanjungan

Kekasihku adalah
Karya cipta sang kuasa yang terindah
Pewaris adam yang memikat
Segalah dari yang ingin ku pinta
Sebab kekasihku untukku

(Nur Hafizqi)

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa bagi para seniman kekasih mereka adalah gudang inspirasi dan berimajinasi.

Untuk itu, puisi di atas menggambarkan sosok kekasih sebagai inspirasi dalam segala karya sang seniman.

Dalam puisi di atas juga terdapat harapan sebagai satu-satunya kekasih yang dimiliki sang inspirasi sehingga dalam kata lain penulis mengharapkan kesetiaan dari kekasihnya.

Nuansa 2019

Senduh yang tersirat tahun lalu ku harap ia sudih beranjak
Bersama hari yang turut terganti dalam tahun
Resah gersang yang memudar
Ku harap lekas menyubur

Aku ingin menjadi penikmat hari yang ceria
Tanpa mendung, juga resah dalam kalbu
Aku ingin mewujud mimpi dalam cita yang kuurai
Menaiki tangga pertanda mimpi telah usai

Aku ingin menuai suka
Pertanda duka telah meredup dalam sinarannya
Aku ingin
Hari-hari diisi sorakan kegembiraan tanpa menyeduh kesenduhan dalam perjalanannya

(Nur Hafizqi)

Semua orang tentu memiliki cita-cita, akan tetapi dalam meraih cita-cita tersebut tidak selalu berjalan baik.

Puisi di atas berisi tentang harapan untuk mewujudkan cita-cita yang dimiliki serta bertujuan sebagai penyemangat.

Puisi di atas sangat cocok dibacakan dengan suasana gembira dan semangat.

Hal tersebut dapat menumbuhkan rasa optimis kembali dalam mewujudkan cita-cita yang kita impikan setelah mengalami kegagalan.

Meneguk Teh dan Memangkas Jarak

Wahai engkau yang saat ini menjadi orang nomor satu dinegeriku
Sudahkah hati riang gembira atas juang yang kau tunjuk
Sudahkah hati merasa tenang sebab ingin telah terwujud
Sudahkah siap ragamu menjadi abdi para rakyat

Kami memilihmu atas nama Negara untuk perubahan
Kami memilihmu untuk membawa nasib kami pada peruntungan
Jangan hanya duduk sebagai penikmat
Jangan hanya duduk sebagai penginjak

Engkau kami pilih sebagai utusan kebaikan
Engkau kami dudukkan atas nama kepercayaan
Suara kami, nasib kami tolong diperhatikan
Jangan jadikan kami tumbal-tumbal barisan janji manismu

Wahai engkau yang saat ini mengaku pemimpin kami
Turunlah, berjalan juga berlari mengitari kami
Ikutlah menjadi penikmat teh yang sudih memangkas jarak untuk kami
Tugasmu menjadi pelindung untuk kami, bukan sebagai yang angkuh berlenggok dalam kekuasaan

Ini
Disini tempat jiwamu
Ditengah-tengah kami
Bersama kami, para raga yang mendudukanmu

(Nur Hafizqi)

Dalam dunia perpolitikan tentu tidak mudah untuk mendapatkan suatu kemenangan.

Para calon yang ingin mendapatkan kekuasaan tersebut haruslah mengupayakan banyak cara demi mendapatkan tujuan tersebut.

Begitupun dengan rakyat yang hendak dipimpin, tentu memiliki harapan dan cita-cita tersendiri atas kelahiran seorang pemimpin baru di negaranya.

Baca Juga :  Puisi Karya Sapardi Djoko Damono: Penuh Makna Cinta Hingga Gertakan

Puisi di atas mengandung makna harapan rakyat kepada pemimpin yang terpilih dalam pesta demokrasi.

Diharapkan pemimpin tidak menjadi penguasa dan justru ikut membantu dalam mensejahterakan rakyatnya.

Sebab, untuk harapan tersebutlah seorang pemimpin dipilih.

Puisi di atas harus dibacakan dengan penuh semangat agar nilai nasionalisme yang terkandung didalamnya dalam terasa bagi diri pembaca.

Malam Panjang

Masih bergelat dalam layar kosongku
Mencari asi barang semesta mengizin rizki
Apa yang sedang mereka geluti dialam mimpi sana
Sejenak menutup retinapun aku tak berkuasa
Sejenak aku terhanyut
Mengutuk semesta yang telah tulus padaku
Kembali ku ibah rasa syukurku
Atas tanam serta kasih yang semesta beri

(Nur Hafizqi)

Barang kali kita pernah merasakan rasa lelah saat bekerja.

Puisi di atas berisi harapan seseorang untuk dapat beristirahat dari pekerjaan yang sedang dijalani.

Selain itu, puisi juga menggambarkan rasa cemburu yang dialami penulis dengan mereka yang dapat tertidur lelap sehingga membuat penulis kehilangan rasa bersyukurnya.

Selain berisi harapan, puisi di atas juga memiliki makna rasa syukur yang penting dalam diri kita.

Kepulangan

Tuk tuk kudengar suara langkah mendatang
Tak berapa lama pintu terketuk
Riang ku sambut pulangmu
Namun masam kau jamu padaku
Tangan kosong menyirat kesedihan dalam wajahmu
Tak apa hari esok masih menanti

(Nur Hafizqi)

Pernahkah kita menunggu seseorang dengan harapan suatu kebaikan atau bahkan sebuah rezeki ikut terbawa pulang bersamanya?

Ya, puisi di atas berisi harapan seorang istri yang pupus saat sang suami pulang tanpa membawa sesuatu yang dapat dimakan.

Walau demikian sang istri tetap berlapang hati menyemangati sang suami dengan kalimat “tak apa hari esok masih menanti”.

Selain suatu ungkapan harapan, puisi di atas juga memiliki pesan tentang bagaimana seorang istri harus bersikap terhadap suaminya dan memiliki makna kehidupan dari sebuah pernikahan.

Pahlawanku

Kembali kau terbangun
Grusak grusuk kudengar kekacauan terjadi di luar
Kau kembali pergi mendatangi medan juang
Jangan kembali bersimpa darah pesanku

(Nur Hafizqi)

Puisi pendek di atas berisi harapan pasangan yang harus kembali dengan selamat saat pergi berperang.

Pada saat ini puisi ini ditujukan untuk mengungkapkan suasana hati serta harapan dari pasangan angkatan kemiliteran yang hendak pergi berperang.

Mayat Berpetikan Emas

Aku bagai mayat berpetikan emas
Ruang jenjang bertahta berlian hanya menjadi penghias
Mencekam dalam sepi sudah biasa
Jika tiadapun takkan ada yang tau
Barang menghitung pundi mana yang menjadi milik mereka

(Nur Hafizqi)

Puisi singkat di atas berisi harapan orang tua yang ingin dikunjungi anaknya.

Di dalam puisi juga terdapat amanat bahwa janganlah sebagai anak kita mengabaikan orang tua kita hingga membuatnya menahan rindu dan berpikir bahwa kita tidak lagi peduli dengannya.

Puisi di atas juga bersuasana sedih, dimana penulis menggambarkan dirinya sebagai orang tua yang sedang merindukan anaknya, tetapi tidak dipedulikan dan berpikir bahwa anaknya hanya akan memikirkan pembagian harta yang ia miliki saat ia telah tiada.

Buangan Mimpi

Kemana perginya serapa yang dahulu selalu ku ucap
Aku nanti mau menjadi ini
Aku mau menjadi itu
Nyatanya semesta tak seiring, harap hanya kehampaan
Yang bahkan memandang kembali padanya aku memilu
Kampus yang saat ini kujejaki bukan jembatan mimpi yang kecil kuangankan

Pelabuhan yang padanya aku terdampar
Buangan mimpiku yang padanya aku tunduk mematuh semesta
Disudut wilayah lain ku pandang sepasang kekasih yang menggantung harap padaku
Melepas permatanya
Berharap aku terasah dan nantinya membanggakan

(Nur Hafizqi)

Puisi di atas berisi harapan yang akan tercapai dengan menempuh pendidikan tinggi.

Selain cita-cita diri yang ingin diwujudkan ada harapan orang tua tentang keberhasilan sang anak yang juga ingin diwujudkan penulis.

Harapan adalah suatu hal yang harus dimiliki oleh semua orang, baik dalam cita-cita, percintaan, karir maupun hal lainnya dalam kehidupan ini.

Namun, harapan haruslah dibarengi dengan usaha dan doa dalam mewujudkannya.

Semoga puisi pada artikel ini dapat memotivasi pembaca dalam mewujudkan harapan yang dimiliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: