Ciri-ciri Pantun

5 min read

Ciri Ciri Pantun

Ciri Ciri Pantun Salah satu jenis puisi lama dalam kesusastraan Bahasa Indonesia yang masih dikenal oleh masyarakat luas hingga saat ini yaitu pantun. Secara umum, ciri ciri pantun yaitu terdiri dari 4 baris dengan 8 sampai 12 suku kata yang memiliki rima a-a-a-a atau a-b-a-b.

Struktur pantun secara umum terdiri dari sampiran untuk dua baris pertama dan isi untuk dua baris terakhir. Pantun dibuat dengan tujuan mendidik, menghibur bahkan memberikan nasihat atau teguran kepada orang lain tanpa menyinggung perasaan.

Ungkapan pikiran dan perasaan secara langsung merupakan dasar dalam pembuatan pantun. Karena pantun merupakan ciri khas bangsa, tentunya penting untuk mempelajari dan mengetahui apa itu pantun.


Ciri Pantun Secara Umum

Ciri Pantun Secara Umum

Jika dilihat dari bentuk dan isinya, ada beragam jenis pantun yang dapat diketahui. Tiap bentuk pantun memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Namun secara umum pantun memiliki kesamaan ciri yang dapat dengan mudah untuk dipelajari.

1. Terdiri dari 4 Baris

Secara umum pantun terdiri dari 4 baris dengan sampiran yang ada pada baris pertama dan kedua serta isi pada baris ketiga dan keempat. Sampiran dan isi pada pantun umumnya tidak saling terikat satu sama lain.

Isi dalam pantun biasanya menunjukkan tujuan dari pantun entah itu sebagai hiburan atau sebagai sebuah nasihat. Perhatikan contoh pantun berikut agar semakin paham.

  • Anak Bu Siti namanya Jaka
  • Pergi merantau di hari Rabu
  • Jadi anak janganlah durhaka
  • Patuhi kata ayah dan ibu

2. Baris Pertama dan Kedua dalam Pantun disebut Sampiran

Sampiran merupakan sebuah kalimat yang berada pada baris pertama dan kedua dalam sebuah pantun. Antara baris pertama dan kedua biasanya tidak saling terkait karena hanya bermaksud untuk menyampaikan rima atau sajak. Dalam pantun yang ada dalam poin 1, yang termasuk sampiran yaitu:

  • Anak Bu Siti namanya Jaka
  • Pergi merantau di hari Rabu

3. Baris Ketiga dan Keempat dalam Pantun Disebut Isi

Selain memiliki sampiran, pantun juga memiliki isi yang merupakan tujuan dari pantun yang dibuat pada baris ketiga dan keempatnya. Isi pantun memiliki tujuan tertentu yang ingin diutarakan kepada orang lain seperti menghibur, memberikan teguran atau nasihat. Dalam pantun yang ada dalam poin 1, yang termasuk isi yaitu:

  • Jadi anak janganlah durhaka
  • Patuhi kata ayah dan ibu

4. Satu Baris Pantun Terdiri dari 8 sampai 12 Suku Kata

Ciri ciri pantun yang selanjutnya yaitu terdiri dari 8 sampai 12 suku kata pada setiap barisnya. Penghitungan suku kata pada pantun dimulai dari kata pertama hingga kata terakhir pada satu baris pantun. Pantun pada poin 1 memiliki 10 suku kata pada setiap barisnya. Penghitungan suku kata pada pantun tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

  • A-nak Bu- Si-ti na-ma-nya Ja-ka
  • Per-gi me-ran-tau di-ha-ri Ra-bu
  • Ja-di a-nak ja-ngan-lah dur-ha-ka
  • Pa-tu-hi ka-ta a-yah dan- i-bu

5. Bersajak a-a-a-a atau a-b-a-b

Ada 2 sajak yang ada dalam pantun yaitu sajak a-a-a-a untuk pantun yang memiliki huruf akhiran sama dan sajak a-b-a-b untuk pantun yang memiliki kata akhiran berbeda. Pantun yang ada dalam poin 1 merupakan contoh pantun bersajak a-b-a-b. Untuk pantun bersajak a-a-a-a dapat dilihat di bawah ini:

  • Main bola sambil lari-lari
  • Ketika duduk tertancap duri
  • Jadi orang jangalah lupa diri
  • Hidup harus terus disyukuri

Baca Juga: Pantun Anak Anak


Ciri Pantun Seloka

Ciri Pantun Seloka

Seloka merupakan salah satu jenis puisi lama yang termasuk ke dalam puisi Melayu Klasik dan terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima. Biasanya pantun ini berisi pepatah maupun perumpamaan yang mengandung ejekan, sindiran dan senda gurau tanpa menyinggung perasaan orang yang dituju. 

1. 1 Bait Pantun Terdiri dari 4 Baris

Sama seperti ciri ciri pantun pada umumnya, dalam 1 bait pantun seloka terdiri dari 4 baris. Yang membedakan adalah rangkaian pantun yang saling sambung menyambung satu dengan lainnya. Ada berbagai jenis seloka yaitu seloka mengejek, seloka khayal, seloka senda gurau, seloka menempelak, dan seloka nasihat.

Berbagai jenis seloka tersebut memiliki fungsi dan tujuan tertentu. Pantun jenis ini bisa dibuat sebanyak 16 baris, 12 baris, 8 baris maupun 4 baris. Untuk membuat pantun seloka, baris kedua dan keempat pada bait sebelumnya akan digunakan untuk baris pertama dan ketiga bait selanjutnya.

2. Bersajak a-b-a-b

Tidak seperti pantun biasa yang memiliki sajak a-a-a-a atau a-b-a-b, pantun seloka kebanyakan bersajak a-b-a-b. Sajak a-b-a-b yang ada dalam pantun berarti kata akhir pada baris pertama dan ketiga serta kedua dan keempat adalah sama.

3. Letak sampiran dan Isi

Sampiran merupakan sebuah kalimat yang berada pada baris pertama dan kedua dalam sebuah pantun. Sedangkan isi merupakan tujuan dari pantun yang dibuat pada baris ketiga dan keempatnya. Struktur pantun seperti ini juga berlaku untuk pantun seloka. Berikut contoh pantun seloka yang dapat dibuat.

Bait 1

  • Berkobar dalam api yang memanggang
  • Hanya gemerincing logam yang tersisa
  • Rekatkan asa yang telah renggang
  • Momen indah bulan puasa

Bait 2

  • Buku biru satu paragraf
  • Berkobar dalam api yang memanggang
  • Tiada kata seindah maaf
  • Rekatkan asa yang telah renggang

Ciri Pantun Talibun

Ciri Pantun Talibun

Talibun merupakan salah satu puisi lama yang berbentuk seperti pantun dengan jumlah baris yang lebih dari 4 baris. Sama seperti pantun pada umumnya, talibun memiliki sampiran dan isi yang jumlahnya tergantung dari jumlah baris dari pantun yang dibuat. Berikut struktur dan ciri ciri pantun talibun yang biasa dibuat.

1. Jumlah Baris Pantun Lebih dari 4 Baris

Berbeda dengan jenis pantun lainnya, pantun talibun memiliki jumlah baris lebih dari 4. Tiap 1 bait talibun harus terdiri dari jumlah baris yang genap, bisa berjumlah 6, 8, 10, 12 dan seterusnya. Meskipun dapat dibuat dengan banyak baris dalam jumlah genap, talibun yang paling populer yaitu talibun dengan 8 baris dalam satu baitnya.

2. Terdiri dari Sampiran dan Isi

Meskipun talibun memiliki jumlah baris yang berbeda dari pantun pada umumnya, setiap bait dalam pantun talibun tetap berisi sampiran dan isi. Yang membedakan hanya jumlah sampiran dan isi yang tergantung dari jumlah barisnya. Misalkan jika satu bait  talibun dibuat dengan 8 baris maka pantun tersebut memiliki 4 baris sampiran dan 4 baris isi.

3. Pola Rima yang Tergantung oleh Jumlah Baris Talibun

Secara umum ciri ciri pantun adalah memiliki rima berpola a-a-a-a atau a-b-a-b dalam setiap baitnya. Dalam pantun talibun pola rima yang ada tergantung oleh jumlah baris yang ada dalam 1 baitnya.

Bila talibun memiliki 6 baris maka pola rimanya a-b-c-a-b-c. Namun bila talibun memiliki 8 baris dalam satu baitnya maka pola rimanya menjadi a-b-c-d-a-b-c-d begitu pula seterusnya.

Karena merupakan salah satu jenis puisi bebas, talibun memiliki gaya bahasa yang luas dan lumrah dan berfungsi untuk menjelaskan suatu perkara. Tidak seperti pantun pada umumnya, dalam pembentukan talibun dapat menggunakan pantun atau syair orang lain. Berikut contoh talibun yang dapat dipelajari:

  • Rintik hujan membawa amarah
  • Timbul gigil menjepit saraf
  • Hingga tersisa sebuah masa
  • Menyusuri jalanan yang lengang
  • Tiap orang punya salah
  • Jika salah segera ucapkan maaf
  • Kata indah yang satukan asa
  • Memadukan raga yang renggang

Ciri Pantun Karmina

Ciri Pantun Karmina

Pantun yang sering ditemukan bahkan didengar oleh kebanyakan orang yaitu pantun karmina. Pantun karmina atau yang juga disebut sebagai pantun kilat merupakan jenis pantun dua seuntai dimana hanya terdiri dari dua baris dalam satu baitnya. Biasanya pantun ini merupakan ucapan atau penggambaran secara langsung kepada seseorang.

Tidak jauh berbeda dengan pantun pada umumnya, pantun karmina memiliki peraturan penulisan yang menjadi ciri khas pantun ini. Oleh karena itu penting untuk mempelajari ciri ciri pantun karmina secara umum agar bisa membuat suatu kalimat menjadi pantun jenis ini.

1. Terdiri dari 2 Baris

Berbeda dengan pantun lainnya yang terdiri dari 4 baris dalam satu baitnya, karmina justru hanya terdiri dari 2 baris saja dalam bait pantunnya. Meskipun hanya terdiri dari 2 baris, pantun jenis ini mengandung rayuan dan perintah yang merupakan 2 hal bertentangan. Karena merupakan pantun kilat yang dibuat secara langsung, pantun karmina dapat dengan dibuat.

2. Memiliki Sampiran dan Isi

Meskipun hanya terdiri dari 2 baris dalam satu baitnya, pantun karmina tetap memiliki sampiran dan isi seperti pantun lainnya. Baris pertama dalam pantun karmina dijadikan sebagai sampiran dan baris keduanya dijadikan sebagai isi. Perhatikan contoh pantun karmina di bawah ini agar lebih paham.

Pergi ke pasar membeli itik

Sekarang mau pergi kemana cantik?

3. Satu Baris Pantun Terdiri dari 8 sampai 12 Suku Kata

Ciri pantun karmina yang selanjutnya yaitu terdiri dari 8 sampai 12 suku kata pada setiap barisnya. Penghitungan suku kata pada pantun dimulai dari kata pertama hingga kata terakhir pada satu baris pantun. Pantun pada poin 2 memiliki 10 suku kata pada baris pertama dan 12 suku kata pada baris kedua. Penghitungan suku kata pada pantun tersebut dapat dilihat sebagai berikut

Per-gi ke- pa-sar mem-be-li i-tik

Se-ka-rang ma-u per-gi ke-ma-na can-tik?

 

Baca Juga: Pengertian Pantun


Ciri Pantun Gurindam

Ciri Pantun Gurindam

Gurindam merupakan salah satu bentuk puisi lama yang dibawa oleh orang India dan diilhami oleh pengaruh kesusastraan Hindu. Bentuk gurindam sendiri hampir sama dengan puisi namun isinya sama dengan pantun yang terdiri dari banyak bait. Agar lebih mudah dipahami berikut ciri ciri pantun gurindam.

1. Terdiri dari 2 Baris Bersajak a-a atau b-b

Sama seperti pantun kilat, gurindam terdiri dari dua baris dengan sajak a-a, b-b dan seterusnya dalam setiap baitnya. Tiap bait dalam gurindam memiliki hubungan sebab akibat yang saling berkaitan.

2. Memiliki Sampiran dan Isi

Meskipun hanya terdiri dari 2 baris dalam satu baitnya, pantun gurindam tetap memiliki sampiran dan isi seperti pantun lainnya. Baris pertama dalam pantun gurindam dijadikan sebagai sampiran dan baris keduanya dijadikan sebagai isi.

3. Satu Baris Terdiri dari Maksimal 10 Kata

Berbeda dengan pantun pada umumnya, gurindam maksimal terdiri dari 10 kata dalam setiap barisnya. Perhatikan contoh pantun di bawah ini untuk lebih memahaminya.

Bait 1:

  • Orang kaya banyaklah harta
  • Banyak harta sudah biasa

Bait 2:

  • Lebih baik banyak sedekah
  • Buat hidup lebih indah

Bait 3:

  • Janganlah takut bersedekah
  • Takutlah jika jadi serakah

Rupanya ada berbagai macam jenis pantun yang ada di Indonesia. Meskipun beberapa pantun sering digunakan untuk pembelajaran di sekolah, namun banyak juga jenis pantun yang tidak diketahui oleh masyarakat.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai pantun dan ciri ciri pantun berdasarkan bentuk dan jenisnya yang dapat dipelajari untuk menambah pengetahuan. Kebanyakan pantun memiliki tujuan untuk mendidik, menghibur bahkan memberikan nasihat atau teguran kepada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *